TAKENGON – Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ke-14 yang digelar di Pendopo Bupati Aceh Tengah, Selasa (23/6/2026), menjadi momentum penting dalam memperkuat pelestarian sastra lisan sebagai identitas budaya masyarakat Gayo. Kegiatan yang diikuti oleh 228 penyair dari 14 negara dan berbagai provinsi di Indonesia tidak hanya menjadi ajang pertemuan sastrawan, tetapi juga wadah untuk menggaungkan pentingnya menjaga warisan budaya daerah di tengah arus modernisasi.

Dalam rangkaian acara penyambutan peserta, perhatian tertuju pada Didong, seni pertunjukan sekaligus sastra lisan khas masyarakat Gayo yang selama ini menjadi media penyampaian nilai-nilai adat, pendidikan, dan keagamaan. Tradisi tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Aceh Tengah.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting dalam membangun karakter bangsa dan memperkuat identitas kebudayaan Indonesia. Menurutnya, bahasa dan sastra daerah merupakan sumber pengetahuan dan kearifan lokal yang harus terus dijaga keberlangsungannya.
“Semoga sastra menjadi jalan untuk merintis kehidupan bangsa, mewujudkan pendidikan bermutu, dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Hafidz.
Ia menilai pelestarian sastra lisan seperti Didong tidak hanya penting bagi masyarakat Gayo, tetapi juga bagi Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman budaya. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat, pelaku sastra, dan perguruan tinggi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.
Upaya pelestarian sastra lisan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, menegaskan bahwa Didong merupakan identitas budaya yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Gayo. Ia berharap agar kesenian tersebut terus berkembang dan dikenal lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Kami menitipkan harapan besar kepada seluruh pihak agar Didong sebagai identitas masyarakat Gayo terus dijaga, dilestarikan, dan diperkenalkan lebih luas. Tradisi ini adalah kebanggaan daerah yang harus diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Hasan.
Komitmen pelestarian bahasa dan sastra daerah makin diperkuat melalui penandatanganan nota kesepakatan antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa serta sastra daerah sebagai bagian dari upaya menjaga kekayaan sastra nasional.
Pakar sastra Gayo, Salman Yoga, mengatakan bahwa Didong merupakan puncak kebudayaan masyarakat Gayo yang lahir dan berkembang seiring dengan perjalanan peradaban masyarakatnya. Menurutnya, Didong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana komunikasi publik yang efektif.
Lebih lanjut pakar sastra gayo tersebut menjelaskan bahwa kekuatan Didong terletak pada kemampuan para pelakunya untuk menciptakan syair secara spontan dalam pertunjukan Didong Jalu. Dalam satu malam pertunjukan, ribuan bait syair dengan ribuan kosakata dapat lahir secara langsung tanpa naskah tertulis.
“Didong adalah mikrofon masyarakat Gayo. Melalui syair-syairnya, berbagai pesan sosial, moral, pendidikan, adat, hingga dakwah dapat disampaikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Kemampuan tersebut menunjukkan tingginya tradisi intelektual masyarakat Gayo yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, menurutnya, pelestarian Didong harus menjadi tanggung jawab bersama agar tidak tergerus perubahan zaman.
Melalui PPN ke-14, Aceh Tengah tidak hanya menjadi ruang pertemuan para penyair dunia, tetapi juga mempertegas komitmennya dalam menjaga dan mengembangkan sastra lisan Didong sebagai warisan budaya yang hidup. Dukungan pemerintah daerah, Badan Bahasa, serta para pelaku budaya diharapkan mampu memperkuat regenerasi seniman Didong sehingga tradisi tersebut tetap lestari dan terus diwariskan kepada generasi mendatang.
