
Jakarta – Bahasa Indonesia terus menunjukkan kiprahnya sebagai instrumen diplomasi budaya di tingkat global. Upaya tersebut menjadi sorotan dalam gelar wicara bertajuk Diplomasi Melalui Kata: Bahasa, Buku, dan Diaspora yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Sabtu (4/7) di panggung Semesta Buku Jakarta, Blok M Hub, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Semesta Buku Jakarta 2026, festival literasi yang diselenggarakan oleh Gramedia bersama sejumlah mitra pada 26 Juni—5 Juli 2026. Festival tersebut menghadirkan pameran buku, diskusi, peluncuran buku, hingga berbagai kegiatan edukatif untuk mendekatkan masyarakat dengan dunia literasi.
Diskusi yang dilaksanakan menghadirkan Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Badan Bahasa, Iwa Lukmana, Duta Bahasa DKI Jakarta sekaligus pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), Gatari Dwi Hapsari, serta diaspora Indonesia di kawasan Timur Tengah, Sidqi, penulis buku Wajah Baru Indonesia di Tanah Arab.
Dalam paparannya, Iwa menjelaskan bahwa penginternasionalan bahasa Indonesia terus diperkuat melalui berbagai program strategis. Salah satunya adalah pengembangan program BIPA yang kini makin diminati oleh masyarakat di berbagai negara. Selain itu, Badan Bahasa juga terus memperluas program penerjemahan karya sastra dan buku Indonesia ke berbagai bahasa asing serta program penerjemahan karya asing ke dalam bahasa Indonesia sebagai bagian dari diplomasi budaya.
Menurut Iwa, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan identitas, kebudayaan, dan wajah Indonesia kepada masyarakat dunia. “Penginternasionalan bahasa Indonesia tidak bisa dikerjakan oleh satu lembaga saja. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar bahasa Indonesia makin dikenal di dunia,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa Badan Bahasa tengah menyusun peta jalan strategis diplomasi bahasa Indonesia yang akan melibatkan berbagai kementerian dan pemangku kepentingan. Diplomasi bahasa, menurutnya, dapat dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari pendidikan, kebudayaan, pariwisata, olahraga, hingga promosi kuliner Indonesia di tingkat internasional.
Sementara itu, Sidqi membagikan pengalamannya sebagai diaspora Indonesia di negara-negara Arab. Ia menuturkan bahwa minat masyarakat terhadap bahasa Indonesia terus meningkat. Namun, tantangan yang dihadapi bukan hanya persoalan bahasa, melainkan juga stigma dan minimnya pengetahuan masyarakat setempat mengenai Indonesia.
Menurutnya, penguasaan bahasa Indonesia menjadi pintu untuk memperkenalkan nilai-nilai, budaya, serta citra positif Indonesia di mata dunia. Bahasa menjadi jembatan yang mampu membangun pemahaman dan kedekatan antarbangsa.
Dari perspektif pendidikan, Gatari menjelaskan bahwa pengajar BIPA memiliki peran penting dalam mengenalkan bahasa sekaligus budaya Indonesia kepada penutur asing. Pembelajaran bahasa Indonesia tidak hanya berfokus pada tata bahasa, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya, adat, dan karakter masyarakat Indonesia.
Antusiasme peserta tampak dalam sesi diskusi. Salah satunya datang dari Zain, peserta asal Mesir yang telah fasih berbahasa Indonesia. Ia mengaku tertarik menjadi penerjemah maupun pengajar BIPA di negara-negara Arab.
Untuk menanggapi hal itu, Iwa menyampaikan bahwa peluang tersebut terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan pengajar BIPA di berbagai negara. Menurutnya, kemampuan bahasa Indonesia yang dimiliki peserta asing dapat menjadi modal untuk mengembangkan karier sebagai pengajar maupun penerjemah, termasuk di lingkungan pendidikan, seperti Universitas Al-Azhar, apabila terdapat kebutuhan.
Selain menghadirkan diskusi, Badan Bahasa juga membuka stan layanan kebahasaan dan kesastraan selama penyelenggaraan Semesta Buku Jakarta 2026. Pengunjung dapat mengenal berbagai layanan dan produk Badan Bahasa, seperti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), program penerjemahan dan terjemah bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), platform Buku Digital (BUDI), serta berbagai publikasi kebahasaan dan kesastraan.
Stan Badan Bahasa juga membagikan buku-buku secara gratis kepada masyarakat. Program tersebut mendapat sambutan hangat dari pengunjung yang memanfaatkan momen libur sekolah untuk datang bersama keluarga.
Salah seorang pengunjung, Ani, mengaku senang dapat mengunjungi stan Badan Bahasa. Selain memperoleh informasi mengenai layanan kebahasaan, ia juga mendapatkan buku gratis yang dapat menambah koleksi bacaan di rumah.
Kehadiran Badan Bahasa dalam Semesta Buku Jakarta menunjukkan bahwa literasi tidak hanya diwujudkan melalui budaya membaca, tetapi juga melalui penguatan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa dan instrumen diplomasi yang mampu memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia. (Devi Virhana)



Sumber berita: Laman Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tanggal 04 Juli 2026.
